+62-811-8067-889
beringinputihindonesia@gmail.com

Leuit, Kearifan Lokal dalam Ketahanan Pangan

JAUH sebelum negara ini berdiri, masyarakat Sunda sudah mengenal apa yang dinamakan cadangan pangan. Ketersediaan bahan makanan pokok itu tersimpan rapi dalam leuit.

Hingga kini, metode mumpuni itu masih digunakan di sejumlah kampung adat Sunda di Provinsi Jabar dan Banten. Seperti di Desa Cigugur Kabupaten Kuningan, Desa Ciptagelar Kabupaten Sukabumi, Desa Adat Sindang Barang Kabupaten Bogor, Desa Kanekes Kabupaten Lebak, dan Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya.

Di kampung-kampung adat tersebut, sebelum mengisi leuit atau lumbung, biasanya digelar upacara serentaun. Upacara adat ini dilakukan rutin setiap tahun sebagai bentuk tutup buku tahun pertanian di tahun berjalan. Saat itu, seluruh warga kampung setempat dipastikan ikut bersuka cita bersama menyemarakkan suasana. Bahkan, tak sedikit orang dari luar daerah turut menyaksikan upacara adat sebagai tanda syukur masyarakat agraris tersebut.

Warga Kasepuhan Ciptagelar Yoyoyogasmana mengatakan, upacara serentaun yang digelar pada akhir pekan lalu merupakan syukuran ke-646. Dari beberapa hari pengumpulan itu menghasilkan lebih dari 2.500 ton padi. Hasil bumi itu terkumpul di ratusan leuit warga berbagai ukuran.

“Dari tiga hari itu, kita berhasil mengumpulkan sekitar 842.000 pocong padi. Pocong itu sama dengan beungkeut. Sabeungkeut padi itu dihitung-hitung bisa mencapai 3-7 kg. Jadi kalau dikalikan, terkumpul sebanyak 2.526.000 kg padi. Jumlah itu belum ditambah dengan pare abah yang terkumpul sebanyak 8.950 pocong,” jelas pria yang akrab dikenal dengan sebutan Yoyo tersebut.

Jumlah sebanyak itu, menurutnya, cukup melimpah bagi warga Ciptagelar untuk beberapa tahun ke depan. Artinya, warga yang berada di Kabupaten Sukabumi itu tidak akan kelaparan. Apalagi, Yoyo menyebutkan stok di Ciptagelar itu bukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan ke luar daerah. Sebab, warga kampung adat itu menanam padi sejalan dengan konsep kehidupan.

“Padi yang dipanen di sini tidak boleh dijual. Itu memang bukan untuk dijual. Menjual padi itu ibarat menjual kehidupan. Jadi, warga Ciptagelar menanam itu bukan untuk sisi ekonominya,” ucapnya.

Berkaitan dengan leuit ini, masyarakat Sunda memiliki ungkapan khas, yakni buncir leuit loba duit. Sebuah ungkapan yang berhubungan dengan keadaan yang dicita-citakan yang tak lepas dari tingkat kemapanan seseorang.

Menurutnya, adanya leuit itu merupakan wujud konkret dari ketahanan pangan masyarakat Ciptagelar. Karena di kampung tersebut menanam padi hanya sekali dalam setahun, tentu mereka harus mempunyai cadangan pangan. Leuit yang biasa berbentuk rumah panggung dengan satu pintu untuk menyimpan padi atau gabah. Artinya, leuit bukan tempat menyimpan beras.

Keistimewaan leuit bukan hanya itu saja. Penyimpanan stok pangan itu pun menjadi catatan penting untuk diperhatikan. Bukan dalam bentuk beras, stok pangan itu berupa gabah kering. Walhasil, beras pun dapat tersimpan lama karena penyimpanan masih dalam bentuk cangkang.

Padi yang tersimpan di lumbung itu tidak dipisahkan dari tangkainya. Metode penyimpanan khusus yang dikenal dengan sebutan sisik naga itu merupakan sistem penyimpanan dengan tata cara khusus. Selain tertata rapi, metode sisik naga ini diyakini bisa menyimpan padi dalam jumlah banyak di ruangan yang tidak terlalu luas.

Padi dengan tangkainya itu disatukan dalam sebuah ikatan. Setiap ikatan itu disimpan tergantung menggunakan tali bambu atau pocongan. Kemudian, pocong-pocongan padi itu disimpan pada galah bambu dengan menggunakan batang kayu yang bercabang.

Maksud penyimpanan padi dengan cara ini adalah agar padi dapat mengering selama dibawa dan tetap dapat dipertahankan kadar airnya. Sistem penyimpanan ini menyebabkan padi menjadi tidak rusak akibat kelembaban.

Sumber Tulisan :  http://www.inilahkoran.com
Sumber Foto :  http://budaya-indonesia.org

Respond For " Leuit, Kearifan Lokal dalam Ketahanan Pangan "